Home / Khazanah / Menulis dan Bertabligh, Perpaduan Dua Komponen Untuk Menyampaikan Kebenaran.

Menulis dan Bertabligh, Perpaduan Dua Komponen Untuk Menyampaikan Kebenaran.

Hits: 212

Mentari pagi menyeruak mengiringi langkah kami menuju Masjid Baitul Mu’minin, Cilegon. Sekitar pukul 09.00 WIB. Beberapa anggota Lajnah Imaillah Banten 01 yang merupakan perwakilan dari setiap cabang telah siap siaga mengikuti pelatihan menulis reportase yang diadakan oleh Tim Tabligh Online Jemaat Ahmadiyah Indonesia (Tim TOL JAI).

Dinding masjid yang berwarna putih bersatu padu dalam wajah-wajah suka cita para Lajnah Imaillah Banten 01 yang siap sedia mengorbankan waktu, harta, dan tenaganya pada tanggal 1 Mei 2019 ini.

Acara dimulai dengan doa terindah yang dipimpin oleh Mln. Idrus Permana. Kemudian dilanjutkan kepada materi inti. Narasumber pertama, Mln. Iskandar Gumay menjelaskan mengenai “Apa itu Tim TOL?”. Tim TOL atau Tim Tabligh Online adalah tim yang berada di bawah kordinasi Sekretaris Tabligh Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia yang bergerak dalam bidang tabligh secara online. Kemudian, mungkin muncul tanda tanya dalam benak pembaca sekalian. Mengapa kita harus bertabligh secara online?. Marilah kita lihat masyarakat saat ini yang memiliki kecenderungan menggunakan handphone diatas 8 jam. Hampir semua aktivitas masyarakat kita saat ini berada dalam sistem online. Oleh karenanyalah tabligh secara online adalah salah satu cara yang efektif untuk menyampaikan pesan damai dan juga kebenaran kepada khalayak luas.

Sebenarnya tabligh secara online yang dilakukan di Indonesia ini termasuk dalam kategori terlambat. Mengapa? Karena jika dibandingkan, Lajnah Imaillah Inggris telah melakukannya sejak tahun 2013, sedangkan Indonesia baru melakukannya selama 7 bulan. Tak mengapa, yang penting kita sudah memulainya bukan?

Perlu pembaca sekalian ketahui bahwa kita (Jemaat Ahmadiyah Indonesia) memiliki tiga tuduhan yang harus dijawab. Apa sajakah itu?. Pertama, tuduhan bahwa Ahmadiyah bukan Islam. Kedua, tuduhan bahwa Ahmadiyah meresahkan masyarakat. Ketiga, tuduhan bahwa Ahmadiyah merongrong negara. Kita harus mampu membantah tuduhan-tuduhan tersebut dengan menyampaikan bahwa Ahmadiyah adalah Islam, Ahmadiyah tidaklah meresahkan, dan Ahmadiyah bukanlah ancaman bagi negara. Bagaimana caranya ?.

Sebelumnya, perlu saya informasikan bahwa Tim TOL telah memiliki 6 akun online, yaitu:

  1. AhmadiyahID
  2. Warta Ahmadiyah
  3. Islamku Keren
  4. Islam Rahmah
  5. LoveforallID
  6. Islam Damai

Nah, dari keenam akun ini, pembaca sekalian dapat membagikan link atau isi yang terdapat di dalamnya kepada para ghair Ahmadi. Bukan hanya sekedar untuk menyampaikan bahwa Imam Mahdi sudah datang ataupun menyampaikan kewafatan Nabi Isa, namun agar mereka pun dapat menikmati Ilmu-ilmu Jemaat.

Lanjut kepada narasumber kedua, Mln. Muhammad Nurdin menyampaikan mengenai Seni Menulis Feature (memberi nyawa pada tulisan). Pada awal materi, narasumber mengutip ungkapan dari Pramoedya Ananta Toer yang merupakan seorang sastrawan dunia. “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” – Pramoedya Ananta Toer.

Saya kira kutipan ini mampu menarik hati seluruh peserta untuk mau berkontribusi dalam hal kepenulisan. Ya, siapa yang tidak ingin dikenang ? Semua orang pasti ingin dikenang ketika dirinya telah tiada bukan? Salah satu caranya adalah dengan menulis. “Ketika kalian menulis, maka kalian sedang bekerja untuk mengabadikan diri kalian dalam bentuk tulisan”, ujar Mln. Nurdin.

Setelah mencoba menumbuhkan hasrat para peserta mengenai kepenulisan, barulah narasumber menyampaikan “Apa itu Feature?”. Feature adalah bentuk tulisan non fiksi namun terlihat seperti fiksi. Bila biasanya untuk menulis reportase kita memerlukan unsur 5W+1H, maka dalam feature kita memerlukan 6W+1H. What, Where, When, Who, Why, How dan ada tambahan 1 W dalam menulis feature, yaitu “Which”. Dengan “Which” kita akan mampu mengambil bagian menarik dari kejadian dan fakta-fakta yang akan kita tulis. Narasumber menganalogikan sesuatu yang menarik dalam tulisan sebagai “Micin”. “Dalam tulisan harus diberi Micin supaya menarik” ungkap sang narasumber.

Ada satu hal yang menarik ketika kami menerima materi kedua ini. Setelah kami dilatih untuk membuat reportase sederhana yang mengandung unsur 6W+1H, kami dituntut untuk bisa juga menulis feature. Dalam menulis feature, kita perlu menggunakan perasaan yang mendalam. Kemampuan kita dalam membaca situasi akan terasah disini.

Narasumber menyediakan gambar Khalifatul Masih Al-Khamis (atba) yang sedang memimpin baiat internasional yang diikuti oleh puluhan ribu anggota. Baiat internasional itu dilaksanakan pada hari terakhir Jalsah Salanah UK 2018 yang bertempat di Hadiqatul Mahdi.

Kami meresapi, membayangkan, berimajinasi dengan keadaan seperti pada gambar tersebut. Setelah itu kami menuangkannya dalam bentuk feature. Beberapa peserta ditunjuk untuk membacakan hasil featurenya. Ada yang tak kuasa menahan tangis ketika membacakan hasil featurenya, yaitu Ibu Ketua Daerah dan Ibu Ketua Cabang Serang. Keduanya larut dalam imajinasi bahwa suara ribuan anggota yang dipimpin oleh Huzur (atba) menggema di hadapannya. Mungkin nampak dalam bayangan bahwa lautan ribu manusia menitikkan air mata kecintaan pada Khalifah. Sayapun jadi ikut larut dalam air mata ketika kedua Ibu ini membacakan featurenya. Maa syaa Allah, betapa nyatanya gambaran kecintaan pada Huzur di hadapan saya kala itu.

Tidak sampai disitu, ada narasumber ketiga, Mln. Khaeruddin Jusmansyah yang menuntun kami untuk dapat membuat tulisan dalam bentuk template -template unik. Kami diajarkan bagaimana cara membuat template dengan paduan tulisan yang menarik pembaca dengan menggunakan aplikasi Canva.

Adzan Dzuhur mulai berkumandang, mentari mulai menampakkan wajah dengan garangnya. Itu tanda bahwa acara telah berakhir. Doa penutup pun dipanjatkan, dilanjutkan dengan Shalat Dzuhur. Kemudian menyantap makan siang sembari bertukar cerita dan berbagi opini mengenai materi hari itu.

Saya melihat ada wajah-wajah suka cita ketika saya pamit untuk pulang. Seluruh peserta mungkin merasa lebih percaya diri dan semakin mantap untuk mengaplikasikan ilmu yang di dapat hari ini.

Diam-diam sayapun merapal doa, “Ya Allah, berkatilah Ilmu yang kami dapat hari ini. Dan berilah kemudahan kepada kami untuk senantiasa menyampaikan kebenaran dari-Mu”. Aamiin.

Penulis : Raden Ilmi Nurbaeti (Lajnah Serang – Banten 01)

Baca juga

Festival Kuliner LI Karang Tengah Meriahkan Hari Kemerdekaan HUT RI dihadiri Simpatisan

Hits: 84 Karang Tengah, (15/8). Hari Kemerdekaan HUT RI yang Ke 74 masih dua hari ...

Tinggalkan Balasan