Home / Mancanegara / Apakah Muslim Berteman dengan Pemeluk Agama Lain?
Apakah Muslim Berteman dengan Pemeluk Agama Lain?

Apakah Muslim Berteman dengan Pemeluk Agama Lain?

Dalam konteks ini, banyak upaya yang dilakukan oleh para penentang Islam untuk menjauhkan umat Islam dari jalannya sendiri dan memaksakan ajaran-ajaran mereka dan dengan demikian mereka mengubah kaum Muslim . 

MALTA – “Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani menjadi penolong, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian lainnya. Dan barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi penolong-penolong, maka sesungguhnya ia termasuk dari mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang aniay .” (Quran, 5:52)

baca juga: 

Ayat ini dari Quran sering dikutip untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang tidak toleran dan memerintahkan pengikutnya untuk tidak berteman dengan orang-orang Yahudi, Kristen dan orang-orang dari agama lain. Di banyak negara, Islam disalahkan, dengan mengutip ayat ini, akibat menentang bergabung dan ikutserta dengan yang berbeda.

Al-Quran adalah kitab sempurna yang berisi panduan dan nasihat mendalam. Namun, untuk memastikan panduan sempurna dan pesan yang benar tersebut, sangat penting untuk memperhatikan konteks dan seluruh ajaran agar dapat memahaminya.

Tidak boleh dilupakan bahwa beberapa bagian dari Al-Quran menjelaskan bagian-bagian lain; seperti sebuah komentar pada bagian-bagian tersebut. Sesuatu yang disebutkan secara singkat pada satu bab dijelaskan lebih lanjut pada bab yang berbeda, dengan melihat konteks. Sebuah pemahaman sempurna hanya dapat dicapai dengan memahami seluruh masalah seperti yang disajikan di atas semua ayat dan bab dan tidak hanya dengan melihat satu bagian atau ayat saja.

Saya pikir kesalahpahaman terbesar yang terjadi di antara orang-orang adalah bahwa ayat ini merujuk pada kaum Kristen dan Yahudi di sepanjang masa. Namun, jika kita melihat konteks ayat tersebut, kita melihat bahwa ia merujuk pada masa Nabi Muhammad, ketika orang-orang Yahudi dan Kristen berperang dengan kaum Muslim. Meski begitu, ayat berikutnya yaitu ayat ke-58 menjelaskan alasan untuk mengurangi persahabatan dengan orang-orang Yahudi dan Kristen waktu itu, yang suka mengolok-olok kaum Muslim karenaberpegang teguh pada keyakinan mereka. Dinyatakan dalam Al-Quran: “Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang yang menjadikan agamamu perolokan dan permainan” (5:58).

Kaum Yahudi dan Kristen adalah bagian dari umat manusia. Jadi bagaimana bisa Muslim dibatasi oleh Al-Quran untuk menunjukkan kemurahan hati, kebaikan, simpati dan persahabatan dengan mereka?

Dalam konteks ini, banyak upaya yang dilakukan oleh para penentang Islam untuk menjauhkan umat Islam dari jalannya sendiri dan memaksakan ajaran-ajaran mereka dan dengan demikian mereka mengubah kaum Muslim . Jadi ini adalah situasi dimana kehati-hatian yang tinggi diperlukan untuk memberikan perlindungan dari serangan lawan dan konspirasi yang ditanamkan mereka terhadap Islam dan Muslim.

Tindakan pencegahan selalu diambil demi keamanan dan kesejahteraan masyarakat kapanpun terjadi perang atau konflik, tidak terkecuali yang sedang terjadi di dunia modern sekarang ini. Hal inilah yang dilarang. Tapi dalam memperlakukan siapapun dengan ramah, dengan kasih sayang dan simpati, tidak hanya diizinkan tapi diperintahkan pada umat Islam. Quran menjelaskan lebih lanjut masalah ini dan menyatakan:

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama kamu, dan yang tidak mengusirmu dari rumah-rumahmu. Allah melarang kamu menjadikan mereka yang memerangi kamu karena agama dan telah mengusir kamu dari rumah-rumahmu dan yang telah membantu untuk mengusirmu.” (60:9-10)

Ini adalah keindahan Al-Quran, bahwa Al-Quran berbicara dalam bahasa yang luar biasa jelas dan berlaku untuk semua situasi yang memungkinkan. Al-Quran memiliki alasan dan logika bagi setiap perintah dan peringatan.

Nabi Muhammad menyebutkan dalam Al-Qur’an sebagai “rahmat bagi seluruh umat manusia” (21: 108), dan Yahudi dan Kristen adalah bagian dari umat manusia. Jadi bagaimana bisa Muslim dibatasi oleh Quran dari kemurahan, kebaikan, simpati dan persahabatan dengan mereka?

Selain itu, kehidupan dan karakter Nabi Muhammad adalah perwujudan dari kebaikan dan kemurahan hati terhadap semua umat manusia. Nabi, sebagai bentuk kebiasaan, sukamengunjungi orang non-Muslim yang sakit untuk menunjukkan simpati kepada mereka dan untuk berbagi duka dan penderitaan mereka. Selama hidupnya, beliau selalu berusaha untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Ketika Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, ia menandatangani piagam dengan orang-orang Yahudi dan Kristen untuk hidup dengan saling menunjukkan simpati dan ketulusan, bahwa mereka akan menahan diri dari penindasan terhadap satu sama lain. Nabi Muhammad juga memberikan piagam kebebasan dan kebaikan pada Biara St Catherine di Gunung Sinai pada tahun 628.

Pesan Islam adalah toleransi, harmoni, perdamaian, persaudaraan, kebaikan dan persahabatan. Dan setiap ayat Al-Quran yang dikutip secara tidak benar atau keluar dari konteks ataudisalahartikan tidak boleh digunakan sebagai alat kebencian atau untuk menimbulkan ketakutan dalam pikiran dan hati masyarakat.

Singkatnya, adalah tugas umat Islam untuk berteman dan menunjukkan kasih sayang, simpati dan kebaikan terhadap semua manusia yang damai, tanpa pengecualian atau diskriminasi.

Moto komunitas Muslim Ahmadiyah ‘Cinta untuk semua, tiada kebencian kepada siapapun’ sebenarnya, adalah sebuah esensi dari ajaran Islam.

Laiq Ahmed Atif adalah presiden Jamaah Muslim Ahmadiyah Malta.

Sumber : Times of Malta
Alih bahasa: Zahroh Ayu Khumayr
Editor: Lisa Aviatun Nahar

Baca juga

Ahmadiyah Malta Berbagi Kebahagiaan dengan Sesama

Jika anda adalah orang tua, maka berbuat baiklah kepada yang muda dan jangan meremehkan mereka. ...

Tinggalkan Balasan

Mau selalu update Warta Ahmadiyah?
Silakan klik tombol “Like/Sukai Halaman” di bawah ini.

Kritik/saran dapat Anda sampaikan pada kolom “Pesan” atau email ke
redaksi@warta-ahmadiyah.org
Terima kasih.