Home / Dakwah / Berbeda Itu Biasa

Berbeda Itu Biasa

JAKARTA – Dalam rangka memperingati hari toleransi internasional tanggal 16 November 2017, puluhan pemuda dan pemudi yang tergabung dalam komunitas PEMBERANI (Pemuda Pemudi Berkarya Bagi Negeri) mengadakan rangkaian kegiatan Tourleranceday, yakni program tur ke berbagai rumah ibadah agama-agama di Jakarta pada tanggal 19 November 2017.

Dengan mengusung tema “Berbeda Itu Biasa”, tur toleransi ini mengajarkan pesan mulia bahwa berbagai perbedaan yang melekat pada diri setiap warga negara Indonesia tentunya tidak boleh menjadi faktor pemecah, sebaliknya ia harus menjadi bahan perekat kebhinekaan bangsa ini. Meski kita berbeda, beda warna kulit, beda suku, beda bahasa dan beda agama namun kita tetap Indonesia.

Melalui Tourleranceday para peserta yang berasal dari JABODETABEK ini mendapatkan kesempatan untuk mengenal dan memahami berbagai karakter mulia dari setiap agama. Berawal dari kunjungan ke Klenteng Kong Miao program ini berlanjut ke Pura Aditya Rawamangun, Vihara Ekayana, Masjid Ahmadiyah, Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal.

Salah seorang peserta Tourleranceday yang disapa Taqwim menuturkan, “Sebagai seorang Nahdiyyin saya sangat tertarik dengan program ini karena dapat membuka wawasan kita tentang keanekaragaman agama di Indonesia, terutama Ahmadiyah, karena sebelumnya saya mengklaim bahwa Ahmadiyah adalah sesat, namun setelah diskusi ini saya menjadi sadar bahwa Ahmadiyah tidak sesat.”

Kunjungan ke Masjid Ahmadiyah tepatnya ke Masjid Al-Hidayah Jakarta Pusat ini diawali dengan diskusi seputar Ahmadiyah. Meskipun peserta diskusi berasal dari lintas agama namun suasana diskusi sangat dinamis, tidak ada rasa marah dan curiga bahkan semangat kekeluargaan kental terasa dalam diskusi, hal ini tergambar dengan panggilan ‘ikhwan Ahmadi’ yang berarti saudara Ahmadi dari para penanya.

Berbagai pertanyaan yang bersifat teologis terlontar dalam diskusi ini, seperti apakah derajat Hz. Mirza Ghulam Ahmad as. sama dengan derajat Rasulullah SAW.?, apa pedoman Ahmadiyah?, apa rujukan fiqih dan tasawuf Ahmadiyah?, apa bukti kebenaran pendakwaan Hz. Mirza Ghulam Ahmad as sebagai Imam Mahdi dan Masih Mau’ud?, apa tanda akhir zaman?.  Pertanyan-pertanyaan di atas dapat dijelaskan dengan baik oleh para narasumber, dan para peserta berharap diskusi lanjutan dapat diadakan kembali.

Melalui kunjungan ini membuktikan bahwa Ahmadiyah adalah organisasi yang inklusif, terbuka bagi siapapun, bahkan bagi mereka yang berbeda agama dan sama sekali tidak eksklusif sebagaimana dituduhkan banyak pihak.

Kontributor : Nurlatifah Mawaddah 085945087591

Editor : Fatimah Zahrah

Baca juga

Secara sosiologis Jemaat Ahmadiyah semakin kehilangan hak konstitusionalnya akibat SKB 3 Menteri

JAKARTA – Peneliti Sosiolog dari FISIP Universitas, Dr. Catur Wahyudi, MA menjadi saksi ahli sidang ...

Tinggalkan Balasan

Mau selalu update Warta Ahmadiyah?
Silakan klik tombol “Like/Sukai Halaman” di bawah ini.

Kritik/saran dapat Anda sampaikan pada kolom “Pesan” atau email ke
redaksi@warta-ahmadiyah.org
Terima kasih.