Home / Nasional / Bersama Seni Belajar Toleransi

Bersama Seni Belajar Toleransi

Hits: 33

PENTAS Seni Hari Toleransi Internasional
(Siaran Pers di Museum Mandalangsit Siliwangi, 16 November 2013).

Puncak Pekan Aksi Bandung Lautan Damai sukses digelar di Museum Mandalawangsit Siliwangi, Jalan Lembong 83, Bandung, Sabtu (16/11) sore. Acara ini dimeriahkan pentas seni, orasi budaya dari Ahmad Suaedy dan peluncuran buku bertajuk Dialog100. Kegiatan yang didukung 16 komunitas ini dihadiri lebih dari 100 warga Bandung.

Penampilan band Pangea dan band LDR sukses membawa hadirin berdecak kagum. Tak kalah menarik, permainan kecapi cina (ku chen) oleh Ci Sen Chuei juga berhasil memanen tepuk tangan penonton. Salah satu lagu yang ia bawakan berjudul Ni Hen Mo Shuo, lagu tradisional Tiongkok yang artinya Melati.

Kelompok teater anak dari Praxis membawakan pentas bertema kebhinnekaan. “Kami tidak punya masa depan, kami dirampas oleh orang-orang yang mengatasnamakan Tuhan,” dialog pemain yang mayoritas masih sekolah. Lewat teater ini, mereka menekankan pentingnya menjaga kebhinnekaan di Indonesia demi masa depan anak cucu.

Peluncuran buku Dialog 100 digelar di tengah-tengah acara. Buku ini berisi 100 kisah dari 100 penulis, bertema toleransi beragama dan persahabatan lintas-iman. “Orang-orang berubah bukan karena bacaan berat, tapi karena kisah,” ujar koordinator Bandung Lautan Damai Wawan Gunawan menjelaskan latar belakang penyusunan buku.

Saat peluncuran, editor buku Risdo Simangunsong membacakan penggalan kisah berjudul “Bahasa Universal” tulisan Gerardette Philips. Kisah itu bercerita tentang bagaimana ibu-ibu beda agama di Pakistan berdoa bersama untuk seorang anak yang dijatuhi hukuman mati. “Kisahnya bikin terharu,” ujar Rudi Rinaldi, salah satu penonton.

Pentas dilengkapi oleh Syarif and friends berupa duet gitar dan biola. Lagu “Cicak di Dinding” mereka aransemen ulang sehingga mendulang tepuk tangan hadirin. Acara ini ditutup dengan nyanyi bersama dan berakhir pukul 9 malam.

BANDUNG, Start Perdamaian | “Indonesia adalah bangsa yang toleran. Tapi sekarang ada pergeseran dari toleran ke intoleran,” ujar direktur the Wahid Institute Ahmad Suaedy dalam orasi budayanya. Ahmad menegaskan perlunya belajar lagi soal Indonesia, sebab keutuhan negara ini dipengaruhi hubungan antar-kelompok.

Koordinator Bandung Lautan Damai Wawan Gunawan mengungkapkan, “Jangan mengaku orang Indonesia, tapi kita menginjak kebhinnekaan”. Wawan juga menegaskan bahwa Indonesia sudah sejak dulu beragam, dan inilah yang harus dijaga seluruh anggota masyarakatnya.

Pekan Bandung Lautan Damai sudah dimulai sejak 3 November. Selama dua pekan, Bandung Lautan Damai telah menggelar enam acara yakni : (1) Kampanye Car Free Day, (2) Workshop “Jurnalisme Keberagaman”, (3) Seminar Keberagaman, (4) Pemutaran Film, (5) Pentas seni dan orasi budaya; dan, (6) Peluncuran buku #Dialog100. Menurut penyelenggara, kegiatan ini sengaja dipilih untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Aliansi Bandung Lautan Damai 2013 sendiri didukung 13 komunitas. Mereka adalah Jaringan Kerja Antarumat Beragama (Jakatarub), CommonRoom, Praxis in Community, , Layar Kita, Historia van Bandoeng, LBH Bandung, Cherish Youth Interfaith Camp, Serikat Jurnalis untuk Keberagaman, Gusdurian Bandung, Front Pembela Pancasila, Gereja Kristen Pasundan, PMII Jabar, Jaringan Radio Komunitas. Selain lembaga yang peduli kebhinnekaan, beberapa di antaranya adalah komunitas kebudayaan.

Acara ini diadakan dalam memperingati Hari Toleransi Internasional 16 November. Tanggal ini dipilih UNESCO (badan PBB mengenai pendidikan dan budaya). Deklarasi ini untuk menegaskan pentingnya toleransi yang telah disebutkan dalam sejumlah instrumen HAM internasional. Toleransi dalam konteks deklarasi ini meliputi banyak aspek, termasuk di dalamnya adalah toleransi agama/keyakinan.

Di Indonesia, tingginya angka intoleransi terhadap kebebasan agama dan berkeyakinan merupakan ancaman serius. Menurut SETARA Institute, the Wahid Institute dan CRCS UGM, Jawa Barat memegang angka tertinggi selama empat tahun terakhir. Catatan 2013 SETARA Institute menyebutkan, sejak Januari-Juni 2013, sudah ada 122 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama di 16 provinsi. Sebanyak 50 persen terjadi di Jawa Barat (www.setara-institute.org/id/content/kondisi-kebebasan-beragama-dan-berkeyakinan-mid-2013).

Baca juga

Hadiri Konferensi Internasional, Humanity First Indonesia Tuai Banyak Pujian

Hits: 1277London- Humanity First Indonesia (HFIdn) turut mengikuti konferensi Humanity First Internasional di United Kingdom (UK), ...

Tinggalkan Balasan