Home / Uncategorized / Dialog Kebangsaan Dalam Bingkai Keragaman

Dialog Kebangsaan Dalam Bingkai Keragaman

Hits: 61

Palopo, (2/11). Telah terlaksana dialog kebangsaan dengan tema menciptakan perdamaian dalam bingkai keragaman.

Acara dimulai pukul 19:30 sampai 23:30 dihadiri Ketua, Sekertaris lembaga intern kampus IAIN Palopo atau yang mewakili sejumlah kurang lebih 90 peserta.

Dua narasumber pada acara malam itu adalah Prof. Dr Muh. Natsir Siola, MA dan Mln. Basyiruddin Suhartono, Mbsy.

Sesi pertama disampaikan oleh Prof. Natsir dengan muqadimah bahwa beliau telah menggeluti, mengkaji, dan meneliti dalam bidang filsafat. Jabatan yang pernah disandang adalah sebagai guru besar dalam bidang ilmu filsafat UIN Alauddin Makasar, Wakil Rektor III bidang kemahasiswaan, sekretaris jenderal Mad Jami’ah, pengurus MUI Sulawesi Selatan yang selama 12 tahun dipilih sebagai ketua komisi ukhuwah islamiyah, aktif di Dewan Masjid yang membawahi 800 masjid, dan salah seorang pengurus FKUB. Dengan latar belakang itulah banyak diundang ke konfrensi – konfrensi perdamaian baik di dalam perguruan atau di luar perguruan. inti konfrensi agar umat manusia mewujudkan perdamaian karena sekarang ini manusia dibentur benturkan hingga ada orang terbunuh dalam kondisi tidak bersalah.

Selanjutnya Beliau diundang di konferensi perdamaian di Brunei, Malaysia, India, Iran, beberapa negara di Eropa dan terakhir diundang UK (Unite Kingdom). Beliau sengaja ungkap di atas supaya dialog-dialog perdamaian terus digelindingkan karena di mana-mana terjadi peperangan dan pembantaian padahal masalahnya hanya politik saja.

Lebih lanjut sebagai pengurus MUI Sulsel secara periodik 4 bulan sekali mengundang berbagai latar belakang agama untuk mencari jalan keluar atas problem problem yang ada. Oleh karena itu kita harus peduli menjaga perdamaian di Indonesia lebih khusus di kalangan mahasiswa dengan menjaga sinergitas Inter lembaga ataupun ekstrn lembaga, lebih-lebih antar universitas. Masa depan bangsa ini ada ditangan aktivis mahasiswa. Ditangan aktifis mahasiswa lah yang akan menentukan arah vital di mana arah bangsa ini. Meskipun kita berbeda paham, etnis tapi jangan mencari kesalahan, Karena tidak ada orang yang sempurna. Sebagai mahasiswa kita harus menjaga perdamaian kalau bukan dari diri kita sendiri dari siapa lagi, jangan kita merasa paling benar sedangkan orang lain salah, kita sebagai penentu harus mempersiapkan diri terutama bagaimana kita menjaga hubungan sinergitas di antara sesama muslim.

Kemudian Prof. Natsir berungkap bahwa sebagai pengurus MUI setiap tiga bulan mengundang semua ormas Islam diantaranya Muhammadiyah, NU, Dewan Masjid, Ahmadiyah, Syiah untuk berdialog tentang keragaman. Ternyata problem yang dijadikan alasan untuk menyudutkan saudara-saudara muslim yang lain itu berlebihan. Ternyata perbedaannya sedikit malah lebih banyak kelebihan kelebihannya yang harus kita ketahui.Jemaat Ahmadiyah itu mengeluarkan infak kemudian infak yang terkumpul itu dikembalikan untuk kepentingan umat Islam juga bukan hanya untuk kepentingan umat Ahmadiyah saja dan itu yang kita tidak paham. Di London orang Islam yang menjadi Menteri, Walikota dan seterusnya latar belakang mereka dari Ahmadiyah.

Sebagi penutup dalam materi beliau, Prof. Natsir menuturkan Dialog seperti ini perlu, tujuan kita dialog malam ini ini untuk memajukan persaudaraan terutama persaudaraan Islam, tidak mungkin lurus Kalau tidak ada dialog. Kalau umat Islam bersatu luar biasa dan itu sejarah telah mencatat nya maka bagi orang-orang yang yang tidak suka terhadap Islam mereka mencarikan cara agar kita saling bermusuhan. ada segelintir orang melakukan trik-trik supaya kita bercerai-berai tapi kalau kita bersatu maka kita tetap damai, bangsa tetap kokoh, Indonesia tetap damai.

Sesi kedua disampaikan oleh Mln. Basyiruddin Suhartono. Beliau menyampaikan bahwa dengan kembali kepada apa yang telah diajarkan dan dicontohkan penghulu para Nabi, yakni Nabi besar Muhammad saw maka lingkungan yang damai akan tercipta dan terwujud. Karakter yang diterapkan beliau saw untuk memuwujudkan berdamaian diantaranya tawadu’ atau rendah hati, berperangai ramah welas dan asih, menghormati proses kepada seseorang untuk beriman kepada beliau saw, dalam berdakwah tidak memaksa namun dengan langkah merangkul bukan memukul, mengajak bukan mengejek, ramah bukan marah. Riwayat Nabi Muhammad saw yg mengisahkan ada ahli ibadah yg dimasukkan Allah kedalam neraka diakibatkan ia mengambil hak Allah dengan mengatakan kpd seseorang atau kelompok kafir, dilaknat Allah, ahli neraka, tidak diampuni Allah dan tidak dimasukkan ke Surga, ini harus menjadi perenungan bagi kita agar jangan mudah memvonis sesorang tanpa mengklarifikasi atau mencari kebenaran yang valid terhadap seseorang yang kita sangka. Oleh karenanya tabayyun adalah sesuatu yang penting untuk menciptakan lingkungan yang damai.

Baca juga

Perempuan Ahmadiyah Suarakan Hak Pendidikan Bagi Perempuan Dalam Forum PBB

Hits: 1939 Dr. Nina Mariani Noor, anggota Lajnah Imaillah (Organisasi Perempuan) Jamaah Muslim Ahmadiyah Yogyakarta, ...

Tinggalkan Balasan