Home / Mancanegara / Jum’atan di Monrovia

Jum’atan di Monrovia

Hits: 54

KETIKA penulis berusaha mencari mesjid untuk shalat Jum’at, diinformasikan hanya ada dua mesjid. Satu mesjid milik Jamaah Ahmadiyah dan yang satu lagi Islamic Center yang di dalam kompleknya ada mesjid. Penulis shalat Jum’at di Mesjid ini dengan pertimbangan lebih dekat dari hotel tempat kami menginap.

Oleh Nasaruddin Umar
Inilah.com

SHALAT Jum’at adalah shalat yang difardukan bagi kaum pria beragama Islam. Jika umat Islam tanpa alasan berturut-turut tiga kali tidak melaksanakan shalat Jum’at menurut hadis Nabi dikhawatirkan mati dalam keadaan mati jahiliyah, yang agamanya tidak jelas.

Atas dasar hadis ini terkadang sahabat Nabi harus meninggalkan rumah pagi hari mencari mesjid terdekat untuk menunaikan shalat Jum’at dan kembali ke rumahnya di malam hari. Untuk Indonesia pemandangan seperti ini mungkin jarang terjadi. Akan tetapi di negara-negara minoritas muslim sering terjadi.

Di Monrovia, ibukota Liberia, dalam kesempatan ikut mendampingi kunjungan kerja Presiden RI ke negara ini, penulis menjumpai sejumlah umat Islam harus menempuh perjalanan jauh untuk mengakses shalat Jum’at. Meskipun ibukota, tetapi situasi sosial-ekonomi masyarakatnya masih sangat sederhana.

Kita tidak menjumpai bus umum atau mikrolet atau ojek. Yang ada hanyalah taksi yang bisa diisi beberapa penumpang berbeda tujuan. Mesjid di kota ini juga sangat terbatas, karena memang populasi penduduk muslimnya hanya 12,2 %. Selebihnya Kristen (85%) dan agama-agama lain (2,2%). Produk domestik bruto (PDB) perkapitanya juga masih sangat sederhana, hanya US$500.

Ketika penulis berusaha mencari mesjid untuk shalat Jum’at, diinformasikan hanya ada dua mesjid. Satu mesjid milik Jamaah Ahmadiyah dan yang satu lagi Islamic Center yang di dalam kompleknya ada mesjid. Penulis shalat Jum’at di Mesjid ini dengan pertimbangan lebih dekat dari hotel tempat kami menginap. Ada sejumlah jamaah yang membawa pakaian ganti setelah menempuh perjalanan cukup jauh. Di mesjid mereka membersihkan diri dan mengganti pakaianya yang mirip dengan pakaian Afrika bagian utara, yang gombrang.

Menjelang shalat Jum’at mesjid diramaikan dengan pasar kaget untuk halal food, busana muslim, buku-buku agama Islam dan aksesoris Islam seperti kaligrafi, tasbih, dan permainan anak-anak. 30 menit sebelum Jum’atan dimulai, diisi dengan ceramah agama yang menggunakan tiga bahasa, yaitu bahasa asli setempat (sekitar 30 macam), bahasa Arab, dan bahasa Inggris. Seorang di antaranya tampil menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Kelihatannya mereka bermazhab kombinasi antara Syafi’i dan Hanafi. Hal ini terlihat dari segi adzan shalat Jum’at dilaksanakan dua kali, rukun dan tatacara khutbahnya mirip kita di Indonesia. Hanya di dalam shalatnya tidak kelihatan ada yang melipat tangannya. Umumnya mereka tangannya lurus. Kaum perempuan juga ramai di bagian belakang mengikuti shalat Jum’at dan anak-anak kecil dikumpulkan ruang khusus di samping kiri

Ketika Imam menyampaikan khutbah, mungkin karena ada delegasi Indonesia ikut shalat Jum’at di mesjid, maka mereka mengangkat tema persaudaraan sesama muslim tanpa membedakan warna kulit (mereka semuanya berwarna hitam) dan jenis kelamin.

Yang mengesankan di dalam materi khutbah itu, ia memuji dan sekaligus membanggakan Indonesia sebagai negara Asia yang kaya dan disetarakan dengan RRC dan Jepang. Mereka mengenal pertumbuhan ekonomi Indonesia, kebesaran ibu kota Jakarta, dan dominannya jamaah haji dan umrah dari Indonesia di Saudi Arabia.

Mereka bangga dengan kehadiran pemimpin negara muslim terbesar di dunia di negerinya. Apalagi Pak SBY dalam kesempatan kunjungannya ke Liberia dalam kapasitasnya sebagai salah seorang ketua High Level Panel on Post 2015 yang ditunjuk langsung oleh Pimpinan Perserikatan Bangsa-bangsa.

Seusai shalat Jum’at kami diajak berbincang-bincang dengan pengurus mesjid dan madrasah. Ia menunjukkan lahan kosong yang dipersiapkan untuk pengembangan madrasah, rumah sakit, dan panti asuhan. Mereka menyampaikan harapannya kalau bisa diberikan beasiswa untuk belajar di Indonesia. Maklum perguruan tinggi bekas jajahan Amerika Serikat ini hanya memiliki sebuah universitas.

Perguruan Tinggi Islam di negeri ini belum ada. Bahkan pelajaran agama (Islam) di sekolah-sekolah juga belum diadakan. Hari Sabtu-Minggu mereka gunakan mesjid untuk memberikan wawasan keagamaan kepada anak-anak mereka. Anak-anaknya di dalam kelas khusus dan para orang tua yang mengantar anak-anaknya juga diberikan ceramah agama. [*]

Baca juga

Pelajar Ahmadiyah Dituntut Sampaikan Ajaran Islam Sejati

Hits: 402Tasikmalaya – Pengurus Pusat Ahmadiyah Muslim Students Association (AMSA) atau Pelajar Muslim Ahmadiyah melakukan kunjungan ...