Home / Mancanegara / Selandia Baru: Lansia Ahmadi pelajari bahasa Maori-Te Reo untuk terjemahkan Alquran
Lansia Ahmadi pelajari bahasa Maori Te Reo untuk terjemahkan Alquran

Selandia Baru: Lansia Ahmadi pelajari bahasa Maori-Te Reo untuk terjemahkan Alquran

Hits: 358

KITAB Suci umat Islam, Alquran telah diterjemahkan ke dalam bahasa Maori oleh seorang ahli fisika berusia 81 tahun.

“Butuh waktu selama 6 atau 7 tahun untuk pelajari bahasa Maori,” penerjemah, Shakil Ahmad Monir mengungkapkan kemarin saat peresmian masjid baru Baitul Muqeet – merupakan masjid terbesar di negara ini (Selandia Baru) yang mampu menampung 700 jamaah berlokasi di Homai, Auckland.

“Belajar bahasa Maori lumayan sulit namun saya tidak pernah menyerah,” ujar Monir.

Alquran dalam bahasa Te Reo adalah Kur’anu Tapu.

Monir mengakui butuh perjuangan di tengah beragamnya bangsa Maori. Bertahun-tahun menghadapi beberapa kendala juga, katanya.

“Mata saya tidak bisa melihat jelas,” katanya. “Dan juga terkendala di memori saya, namun saya tidak menyerah.”

Kebanyakan dunia Islam merujuk terjemahan Alquran dari bahasa Arab dan mengatakan bahasa itu adalah bahasa yang diturunkan bagi manusia lewat Nabi Muhammad saw..

Terjemahan Alquran dalam bahasa Maori ini sama halnya terjemahan-terjemahan ayat-ayat Alquran dalam bahasa Samoan dan Fijian – diterjemahkan oleh Muslim Ahmadiyah, kelompok yang didirikan di India dan banyak mendapatkan persekusi. Terjemahannya bersanding dengan teks asli Alquran bahasa Arab.

Khalifah Ahmadiyah, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, diundang oleh Raja Maori, Tuheitia Paki, kemarin untuk melaunching terjemahan Alquran ini.

Sang Khalifah berkata kepada the Sunday Star-Times pendapat Islam mayoritas bahwa Muslim harus menyampaikan firman Allah dalam bahasa Arab adalah keliru. “Mereka menjauh dari jalan yang benar.”

Beliau belum mengetahui berapa banyak orang Maori yang menganut Islam namun beliau berharap akan lebih banyak lagi yang bergabung karena Alquran dalam bahasa mereka telah diterjemahkan. Tujuan penerjemahan Alquran ke dalam 73 bahasa adalah karena tidak semua orang memahami bahasa Arab.

“Tidak menjadi dosa bahkan penting dan utama mendengarkan ajaran Alquran sejati bagi mereka dalam bahasa yang mereka biasa bicara,” kata beliau.

Nabi Muhammad saw. memiliki ajaran yang berlaku bagi semua dan siapapun yang layak dapat membacanya, sabda beliau.

Khalifah bersabda Alquran tidak mengajarkan jihad atau perang suci. Maka para Muslim ektrimis bertindak bertentangan dengan ajaran-ajaran sejati yang disampaikan Alquran. Alquran menyatakan bahwa orang beriman hanya boleh mempertahankan diri saat diserang. Hal serupa juga diberlakukan bagi semua agama.

“Jika kami membela Islam, maka kami sedang membela semua agama.”

Ahmadiyah tidak dianggap sebagai ektrimis namun penguasa Pakistan menganggap mereka murtad dan kemudian tidak mengakui mereka.

Pendiri Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad, bertujuan mereformasi praktek-praktek masa kini dalam Islam yang tidak bersesuaian dengan ajaran-ajaran Alquran dan Nabi Muhammad saw..


Oleh MICHAEL FIELD. Sumber: ARH Library (rilis: 8 November 2013; akses: 8 November 2013, 16.50 WIB); mengutip STUFF.co.nz (rilis: 3 November 2013, 05.00; akses: 8 November 2013, 16.55 WIB); pengalih bahasa: Iin Qurrotul Ain binti T. Hidayatullah (Twitter: “iinaini” @iinqa_mail; email: iinqa.mail@gmail.com).

Gambar ilustrasi:

Bersalaman ala bangsa Maori. PERMULAAN baru: Hazrat Mirza Masroor Ahmad dan Raja Tuheitia pada peresmian masjid terbesar Selandia Baru di Auckland Selatan. (STUFF.co.nz)

Baca juga

Pelajar Ahmadiyah Dituntut Sampaikan Ajaran Islam Sejati

Hits: 402Tasikmalaya – Pengurus Pusat Ahmadiyah Muslim Students Association (AMSA) atau Pelajar Muslim Ahmadiyah melakukan kunjungan ...