Home / Jendela / Pengalaman Seorang Muhammadiyah di Jalsah Salanah Ahmadiyah – Qadian, India
Pengalaman seorang Muhammadiyah di Jalsah Salanah Ahmadiyah - Qadian, India

Pengalaman Seorang Muhammadiyah di Jalsah Salanah Ahmadiyah – Qadian, India

Qadian adalah kota kecil di Punjab yang terletak di India bagian utara. Adalah sesuatu yang luar biasa bahwa dari kota kecil ini pada awal abad ke-20 ada seseorang yang berjanji untuk menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia, mengirim mubaligh untuk menyebarkan Islam ke Amerika dan Eropa.

Pertama, saya ingin mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan sehingga bisa hadir dalam acara Jalsah Salanah Qadian 2016. Saya merasa senang bisa hadir di tempat yang terhormat itu. Saya merasa, belum sempurna identitas Ahmadiyah seseorang jika belum hadir di sini. Bagi peneliti tentang Ahmadiyah, belum lengkap sebuah penelitian tentang Ahmadiyah jika belum pernah hadir dan merasakan gerak dan aktivitas Ahmadiyah di Qadian ini.

baca juga: 

Ada beberapa catatan yang ingin sampaikan berkaitan dengan acara Jalsah Salanah dan kehadiran saya di Qadian. Tentu saja dalam perspektif non Ahmadi.

Pertama, berkunjung ke Qadian adalah melakukan ziarah spiritual (spiritual journey). Dengan hadir di Qadian, kita bukan hanya membaca dan belajar tentang Ahmadiyah. Tapi kita merasakan setiap sudut dari sejarah gerakan ini. Kita menjadi saksi dalam setiap perjuangan yang dilakukan oleh Mirza Ghulam Ahmad.

Ahmad Najib Burhani di Minaratul Masih

Saya sebelumnya sudah membaca tentang Qadian ini, saya sudah melihat beberapa gambar tentang tempat ini. Tapi hadir di sini secara langsung adalah sangat berbeda. Kehadiran ini akan memberikan pengalaman spiritual yang tidak akan pernah kita lupakan sepanjang hidup. Kita melihat setiap lorong dari Dar Al-Masih. Kita mengunjungi di setiap tempat yang diberkahi. Kita belajar sejarah tentang kelahiran, perjuangan, bai’at pertama, tempat menerima wahyu, dan juga dakwah pendiri Ahmadiyah. Kita seperti hadir langsung dalam khutbah-khutbahnya. Kita menjadi direct audience atau orang-orang yang secara langsung menjadi sasaran dari khutbah tersebut. Kita menjadi saksi dalam proses sejarah dari jemaat Ahmadiyah.

Kedua, Qadian sebetulnya bukanlah ibukota provinsi atau negara bagian. Ia juga bukan ibukota kabupaten. Qadian adalah kota kecil di Punjab yang terletak di India bagian utara. Adalah sesuatu yang luar biasa bahwa dari kota kecil ini pada awal abad ke-20 ada seseorang yang berjanji untuk menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia, mengirim mubaligh untuk menyebarkan Islam ke Amerika dan Eropa. Saya tidak tahu persis seberapa banyak telah terjadi perubahan di Qadian ini dalam 126 tahun terakhir. Namun apa yang telah dilakukan oleh Ahmadiyah hingga saat ini dengan berangkat dari kota kecil ini adalah sesuatu yang luar biasa.

Ketiga, setelah menghadiri Jalsah Qadian ini dan juga beberapa Jalsah di Indonesia, maka saya menemukan bahwa Ahmadiyah itu lebih dari sekadar organisasi. Ahmadiyah adalah family atau keluarga. Mengapa saya berkesimpulan seperti itu? Paling tidak ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa Ahmadiyah itu bukan sekadar organisasi dan gerakan, tapi sebagai sebuah family.

Secara kasat mata bisa dilihat bahwa warga Ahmadiyah itu memiliki hubungan yang erat antara satu dengan yang lain. Mereka bukan hanya menyapa dan mengucapkan salam antara satu dengan lainnya, mereka saling peluk ketika bertemu tanpa melihat kebangsaan, etnisitas, dan warna kulit. Mereka membantu satu sama lain dalam berbagai hal, termasuk ekonomi.

Hal lain yang membuktikan bahwa Ahmadiyah adalah sebuah keluarga adalah kebersamaan mereka dalam gerak menuju tujuan tertentu di bawah kepemimpinan Khalifah. Peran Khalifah, atau yang biasa dipanggil sebagai Huzur, begitu sentral dalam membimbing warga Ahmadiyah. Semua orang bertanya dan berkomunikasi dengannya, baik untuk meminta nama untuk anak-anaknya maupun untuk mengkonsultasikan persoalan hidup mereka. Mereka betul-betul menyimak khutbah Jum’ah yang disampaikan oleh Khalifah setiap pekan. Mereka menerjemahkan, mencatat, dan berusaha sekuat mungkin mengamalkan apa yang disampaikan itu. Khalifah bukan hanya menjadi pemimpin spiritual dan imam, tapi juga sebagai pemimpin sosial dan bahkan menjadi ayah bagi pengikut Ahmadiyah.

Dalam forum jalsah salanah, peran Ahmadiyah sebagai keluarga dengan Khalifah/Huzur sebagai ayah itu begitu terasa dengan adanya acara melaporkan adanya anggota keluarga baru pada anggota Ahmadiyah. Bagi yang baru memiliki bayi atau masih mengandung, mereka meminta kepada khalifah untuk memberi nama kepada bayi yang baru lahir atau masih dalam kandungan. Di acara jalsa Qadian bahkan ada acara pernikahan secara agama terhadap pasangan Ahmadiyah. Dilaksanakan setelah sholat Isya’, pernikahan dan pemberian restu itu dilakukan.

Keempat, saya telah menghadiri Jalsah Salanah Ahmadiyah beberapa kali. Saya juga pernah beberapa kali menghadiri pertemuan tahunan dari Muhammadiyah. Di Muhammadiyah, pertemuannya selalu diisi dengan capaian masing-masing majelis atau lembaga dan berbagai wilayah dan daerah Muhammadiyah. Jika ada kendala dalam mengembangkan gerakan, maka kendala itu yang disampaikan. Demikian juga program dan rencana ke depan. Intinya, masing-masing majelis di PP Muhammadiyah dan perwakilan dari daerah dan wilayah Muhammadiyah menyampaikan keberhasilan yang sudah dicapai; berapa sekolah dan rumah sakit yang sudah dibangun, berapa mubaligh yang sudah dikirim ke daerah-daerah terpencil, dan seterusnya.

Dalam Muktamar tentu saja ada shalat lima waktu, tapi itu sangat singkat bagi yang berjamaah dan banyak yang dilakukan sendiri. Bahkan untuk sholat Jum’at dalam muktamar pun seringkali tidak menjadi agenda khusus sehingga tidak direncanakan secara khusus pula siapa yang akan menjadi khatib, imam, dan lainnya. Ini, misalnya, terjadi pada Muktamar di Makassar 2015. Setidaknya ada dua tempat penyelenggaraan sholat Jum’at di arena Muktamar; di masjid dan di ruang sidang. Ini yang menyebabkan kurang ada kesyahduan di dalam pelaksanaan sholat Jumat.

Bagaimana dengan Ahmadiyah? Coba kita lihat jadwal acaranya. Ada kegiatan mulai sebelum fajr dengan shalat tahajud berjamaah, dilanjutkan shalat subuh, dan kemudian ada ceramah. Dalam jalsa, salah satu acara yang ditunggu-tunggu adalah shalat tahajud berjamaah. Ini sulit diterapkan pada organisasi Islam lain, karena ritual bukan kegiatan utama dalam pertemuan rutin mereka. Awalnya saya pikir tahajud itu adalah program optional, namun ternyata ia menjadi kegiatan yang sangat penting. Kegiatan-kegiatan lain berisi ceramah penguatan iman. Di Qadian ada kegiatan ziarah ke makam Mirza Ghulam Ahmad di pagi hari dan mendengarkan khotbah dari khalifah. Intinya, pertemuan tahunan Ahmadiyah atau Jalsah Salanah adalah upaya untuk memperkuat keimanan dan mempererat kohesi antar anggota jemaat, dan memperkokoh identitas sebagai Ahmadiyah. Bukan sebagai pertemuan untuk kepentingan politik dan ekonomi.

Penulis merupakan Peneliti LIPI dan Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah

Baca juga

Catatkan Ribuan Peserta, Jalsah Salanah Bandung Dihadiri Ceu Popong

 BANDUNG – Sebanyak 3500 warga Ahmadiyah Bandung dan sekitarnya mengikuti  Jalsah Salanah pada Jumat (14/7) hingga Minggu (16/7). Lokasi ...

2 komentar

  1. sandi akhmad husen

    sedih dan malu hati ini membaca tulisan ini bagaimana diri yang lemah ini tidak bergairah untuk bisa hadir di jalsah qadian ..mohon doa semoga yg lemah ini bisa mengikuti jalsah yg berberkat ini bersama keluarga.

Tinggalkan Balasan

Mau selalu update Warta Ahmadiyah?
Silakan klik tombol “Like/Sukai Halaman” di bawah ini.

Kritik/saran dapat Anda sampaikan pada kolom “Pesan” atau email ke
redaksi@warta-ahmadiyah.org
Terima kasih.