Home / Khazanah / Puasa dalam Islam dan Agama-agama Lainnya
puasa dalam islam dan agama lain ilustrasi - Google Search

Puasa dalam Islam dan Agama-agama Lainnya

Serupa dengan Yahudi, Kristen, dan Hindu di mana akhir puasa ditandai dengan Yom Kippur, Paskah dan festival Hindu lainnya; akhir Ramadhan ditandai dengan Idul Fitri.

Kamis, 18 Juni, 2015 menandai dimulainya bulan suci Ramadan. Hari ini, umat Islam di seluruh dunia akan melaksanakan puasa selama Ramadhan tapi puasa tidak diciptakan oleh kaum Muslim namun merupakan tradisi kuno yang juga diamalkan oleh agama – agama lainnya juga.

Puasa disebutkan dalam Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru serta Mahabhatara (Kitab Suci agama Hindu). Dalam Yudaisme, puasa dilaksanakan dalam beberapa hari tiap tahunnya, terutama pada hari-hari pertobatan (seperti Yom Kippur, Hari Penebusan) atau ratapan. Puasa bagi orang Yahudi berarti benar-benar menjauhkan diri dari makanan dan minuman, termasuk air.

Dalam agama Kristen, terutama Katolik Roma dan Ortodoks Timur, mereka terbiasa melaksanakan puasa selama 40-hari selama masa Prapaskah, periode musim semi pertobatan sebelum Paskah, dan selama Advent, periode pertobatan sebelum Natal. Di antara Katolik Roma perayaan telah dimodifikasi dengan puasa wajib hanya pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung selama masa Prapaskah.

Dalam Hindu puasa dilaksanakan pada hari-hari tertentu setiap minggunya atau setiap bulan seperti Purnima (purnama) dan Ekadasi (hari ke-11 dari dua mingguan). Puasa dalam festival biasa dijumpai pada hari-hari seperti Navaratri, Shivratri & Karwa Chauth. Sebuah ritual puasa yang umum dilaksanakan berarti menghindari makanan seperti ikan dan daging selama beberapa hari (untuk non-vegetarian) . Kebanyakan umat Hindu menjauhkan diri dari makan makanan seperti untuk satu atau beberapa hari. Beberapa mengikuti ritual puasa yang ketat dengan mengonsumsi air saja atau menghindari cairan selama beberapa hari yang ditetapkan. Ritual Karva Chauth ritual di kalangan perempuan adalah contoh jenis puasa terbaik.

Seperti yang telah disebutkan, puasa diatur pada sebagian besar agama dunia. Dalam Islam, tata cara  yang berhubungan dengan puasa diatur dengan secara jelas. Ramadhan merupakan bulan kesembilan dari kalender lunar Islam. Ini adalah bulan pembaruan dan pembersihan. Tujuan sebenarnya dari Ramadhan, seperti semua bentuk ibadah dalam Islam adalah untuk menarik orang lebih dekat kepada Tuhan Allah.

Pemimpin spiritual Jamaah Muslim Ahmadiyah seluruh dunia, Khalifah Islam, Yang Mulia Mirza Masroor Ahmad, mengatakan dalam Khotbah Jumat nya pada tanggal 7 Oktober 2005 “Puasa selama bulan Ramadhan mengharuskan seseorang untuk menghindari segala macam keburukan, menanggung penindasan musuh dengan ketabahan, bahkan juga menghindari segala hal yang diijinkan, hanya demi Allah taala. Ramadan merupakan bulan ikatan persaudaraan. Setiap orang harus memaafkan yang lainnya demi Allah taala, dan dengan pahala yang 70 kali lipat selama Ramadhan kita akan semakin dekat menuju Allah taala.”

Kaum Muslim mengintensifkan ibadah mereka, reformasi diri dan sumbangan amal selama bulan ini. Alla taala berfirman “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu), memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Al-Baqarah 184:185)

Terbukti dari ayat Alquran di atas bahwa tidak semua orang diwajibkan untuk berpuasa. Puasa wajib bagi orang dewasa bukan anak-anak. Wanita yang sedang menstruasi , hamil atau menyusui tidak diwajibkan untuk berpuasa selama waktu itu. Namun mereka namun bisa mengganti puasa pada hari-hari setelah bulan Ramadhan. Demikian pula orang-orang yang dalam perjalanan tidak diharuskan untuk berpuasa, tapi mereka harus mengganti hari-hari tersebut di lain waktu sepanjang tahun.

Kaum Muslim berpuasa dari pagi hingga petang. Bangun sebelum fajar untuk sholat kemudian makan sahur sebelum mulai berpuasa. Sama seperti dalam Yudaisme, puasa bagi umat Islam berarti benar-benar menjauhkan diri dari makanan dan minuman, termasuk air. Buka puasa dilakukan setelah matahari terbenam bukan berarti langsung melahap makanan sebanyak-banyaknya.

Serupa dengan Yahudi, Kristen, dan Hindu di mana akhir puasa ditandai dengan Yom Kippur, Paskah dan festival Hindu lainnya; akhir Ramadhan ditandai dengan Idul Fitri. Ini adalah hari perayaan bagi umat Islam. Kami berkumpul di Masjid untuk sholat dan silaturahmi dengan keluarga dan teman-teman. Kami menghabiskan hari untuk mengunjungi keluarga dan teman-teman dan juga tukar menukar hadiah.

Dasar ajaran dari semua semua agama adalah untuk mengembangkan hubungan dengan Allah dan puasa adalah salah satu cara untuk mencapai itu karena ketika kita berpuasa, kita memberitahu Allah bahwa kita menghargai karunia yang ia telah disediakan bagi kita seperti air dan makanan dan kami juga belajar bagaimana rasanya hidup tanpa makanan. Dengan cara ini kita bisa menjadi lebih welas asih terhadap sesama manusia yang mungkin tidak menikmati kebutuhan dasar kehidupan. Ramadhan Mubarak!

Diterjemahkan dari : Fasting in Islam & other religions

Baca juga

Warga Ahmadiyah Manislor Isi Sepuluh Hari Terakhir Ramadan dengan Itikaf

CIREBON – Sepuluh hari terakhir Ramadan, sama seperti Muslim di belahan dunia lainnya, warga Ahmadiyah ...

Tinggalkan Balasan

Mau selalu update Warta Ahmadiyah?
Silakan klik tombol “Like/Sukai Halaman” di bawah ini.

Kritik/saran dapat Anda sampaikan pada kolom “Pesan” atau email ke
redaksi@warta-ahmadiyah.org
Terima kasih.