Home / Mancanegara / Saat 30.000 Muslim Menentang Terorisme, Media Diam Saja
Saat 30.000 Muslim Menentang Terorisme, Media Diam Saja

Saat 30.000 Muslim Menentang Terorisme, Media Diam Saja

Sekitar 30.000 lebih orang-orang dari 90 negara berkumpul di pertemuan ini berkumpul dalam semangat persaudaraan – dan mengucapkan terimakasih atas keamanan dan kebebasan yang mereka dapatkan di Inggris.

INGGRIS – Seperti mesin jam, ketika umat Islam melakukan tindakan kekerasan, politisi sayap kanan, para pakar dan jutaan orang Barat semua bersuara mengutuk serangan tersebut. Sementara standar ini hampir tidak pernah berlaku untuk teroris Kristen atau teroris Budha. Terdapat juga inkonsistensi lain dalam penalaran sayap kanan: Mereka mengklaim bahwa Umat Islam menolak untuk mengutuk terorisme.

baca juga: 

Padahal umat Islam menentang tindakan Islam radikal. Faktanya, setiap kali terdapat seorang ekstremisme Islam melakukan tindakan kekerasan diluar nalar, protes dan penolakan berdatangan dari seluruh dunia. Umat Islam juga menyatakan kecamannya meskipun mereka percaya bahwa kecaman ini berlaku juga kepada siapapun yang melakukan kekerasan dengan mengatasnamakan Islam ataupun bukan Islam.

Baru-baru ini, 30.000 umat Islam dari seluruh dunia berkumpul di Inggris untuk menyuarakan penentangan mereka terhadap ISIS dan kelompok radikal lainnya.

“Satu-satunya hal yang ingin dicapai ISIS sebenarnya adalah untuk melukai ajaran Al-Qur’an dan Nabi Muhammad saw.” demikian kata Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifah Ahmadiyah, pada  kesempatan pertemuan tahunan 3 hari di Hampshire, seperti dilansir Daily Mail.

“Jelaslah mereka tidak mempraktekkan Islam, melainkan nampaknya mereka telah memasukkan racun kebencian kepada agama mereka sendiri.”

Peserta yang berasal dari 90an negara ini membentuk rantai manusia dengan tangan mereka, menyatakan penegasan kembali untuk perdamaian dan menolak ekstremisme”. Demikian ditulis Daily Mail.

Selama 50 tahun, Muslim Ahmadiyah telah mengadakan acara tahunan ini untuk mengecam kekerasan dan ekstremisme atas nama Islam.

Gerakan ini didirikan pada tahun 1989 di Qadian, sebuah perkampungan di Punjab, India oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, yang mengaku bahwa “Umat Islam telah mengalami kemunduran di tahap dimana diperlukan sosok Mushlih Rabbani.”

Landasan gerakan mereka adalah perdamaian, Ahmad mengatakan:

“Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan: “Kami terus menyaksikan ketidakadilan yang dilakukan terhadap orang yang tidak bersalah, entah itu Islam, Kristen, Yahudi, atau para pemeluk agama lain atau yang tidak beriman.

“Ini adalah hal yang tercela dan tidak ada pembenaran untuk berbagai kekejaman tersebut. Semua orang yang ingin menyebarkan perdamaian harus bersatu melawan pertumpahan darah.”

“Lebih jauh lagi, kekuatan-kekuatan dunia harus memanfaatkan pengaruh mereka untuk menciptakan keadilan bagi semua orang. Tanpa keadilan tidak akan pernah ada yang namanya perdamaian dan selama belum ada pemikiran dan aksi yang seri, serta tanpa pamrih oleh para pemangku kekuasaan maka dunia akan melaju cepat tergelincir ke dalam kondisi konflik. Kita harus kembali kepada Tuhan dan melakukan upaya bersama untuk membantu orang-orang yang mengalami penderitaan. Itulah jalan yang benar untuk perdamaian.”

Pusat Ahmadiyah sudah berada di lebih dari 129 negara, termasuk Masjid Baitul Futuh di London, Masjid terbesar di Eropa Barat.

Tetapi mereka bukan satu-satunya kelompok yang mengutuk Islam radikal. Nahdlatul Ulama, atau NU, didirikan pada tahun 1926 dan memiliki anggota sekitar 50 juta orang. Seperti yang Huffington Post jelaskan, NU adalah bagian dari Sunni, tujuan NU adalah untuk menyebarkan pesan Islam yang toleran di negara mereka masing-masing untuk menghadang radikalisme, ekstremisme dan terorisme,”

Banyak orang Amerika dan orang-orang barat lainnya berkeras bahwa umat Islam tidak melakukan upaya yang cukup untuk memerangi ekstremisme Islam, yang mungkin pertanyaan itu muncul ketika orang-orang Yahudi mengutuk setiap serangan yang dilakukan oleh tentara Israel terhadap warta Palestina yang tak bersalah. Kapan orang-orang Amerika akan mengutuk pemerintah mereka untuk perang preemtivenya yang telah menewaskan ratusan ribu orang tak berdosa?

Sementara orang-orang Barat berkoar-koar mengajarkan moralitas dan perdamaian bagi umat Islam yang mereka klaim membenci Barat, Umat Islam yang berkumpul di di Inggris Raya akhir pekan ini mengambil pendekatan yang berbeda, mereka menyatakan terimakasih atas jaminan keamanan yang mereka dapatkan dan mereka menyatakan kecintaan pada negeri sendiri. Presiden Jamaah Muslim Ahmadiyah Inggris, Rafiq Hayat mengatakan:

“Sekitar 30.000 lebih orang-orang dari 90 negara berkumpul di pertemuan ini berkumpul dalam semangat persaudaraan – dan mengucapkan terimakasih atas keamanan dan kebebasan yang mereka dapatkan di Inggris.”

“Banyak yang terusir dari negera lain karena penganiayaan yang mereka dapatkan, dan mereka secara bersama-sama akan menegaskan kembali janji baiat mereka untuk mengikuti ajaran Islam yang benar – yaitu ajaran perdamaian – dan untuk melawan segala bentuk ekstremisme dan intoleransi.”

Sumber : The Anti Media
Alih Bahasa : Mln. Khaeruddin Ahmad Jusmansyah

Baca juga

Menlu RI: Media Harus Ambil Langkah Serius dalam Pewartaan Keagamaan

JAKARTA- Asosiasi Jurnalis Agama Internasional  bekerja sama dengan Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman (SEJUK) dan Universitas ...

Tinggalkan Balasan

Mau selalu update Warta Ahmadiyah?
Silakan klik tombol “Like/Sukai Halaman” di bawah ini.

Kritik/saran dapat Anda sampaikan pada kolom “Pesan” atau email ke
redaksi@warta-ahmadiyah.org
Terima kasih.